KABAR BANTEN –Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) Sadtata Noor Adirahmanta menegaskan bahwa hewan liar yang belum atau tidak ditemukan di suatu kawasan hutan tidak otomatis dapat dikatakan telah punah.
Pernyataan itu diungkapkan Sadtata Noor Adirahmanta ketika menjadi pembicara dalam Orientasi Wartawan Konservasi (OWAKA) yang diselenggarakan Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (FOKSI) di Rumah Dua, Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu 22 Agustus 2026 malam.
Jika kita tidak bertemu atau belum bertemu, belum tentu (hewan) tersebut sudah punah,” ujar Sadtata dalam paparannya dengan tema “Fenomena Interaksi Hewan Liar di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Pernyataan itu disampaikan sebagai jawaban atas pertanyaan salah satu pendiri lembaga konservasi ex-situ Taman Safari Indonesia, Tony Sumampau, terkait keberadaan beberapa satwa liar seperti macan tutul, surili, dan lutung jawa yang sering turun dari kawasan Gunung Gede Pangrango.
Tony mengatakan, kejadian munculnya satwa liar ini sering terjadi di kawasan TSI. Bahkan, macan tutul sering turun, sementara kelompok surili bisa mencapai sekitar 15 ekor dan lutung jawa mencapai sekitar 30 ekor.










