Jenderal Iran: Pilot Qatar yang Ditangkap Alami Luka dan Sakit, Minta ICRC Kirim Ambulans Udara

Ringkasan Berita:

  • Iran meminta Komite Merah Internasional (ICRC) untuk membantu mengembalikan tiga pilot yang disebut ditangkap oleh pasukan Qatar setelah operasi pada 2 Maret.
  • Teheran juga mengharapkan Qatar untuk memindahkan para pilot dari tempat penahanan di laut ke rumah sakit yang memadai serta memberikan kemungkinan komunikasi dengan keluarga mereka.
  • Iran juga meminta Kuwait dan Komite Merah Cross Internasional untuk menjamin hak empat tahanan Iran lainnya sesuai dengan Konvensi Jenewa.

Letnan Jenderal Mohammad Baqerzadeh (Mohammad Bagherzadeh), Kepala Komite Pencarian Orang Hilang dalam Aksi (Missing in Action Search Committee) dari Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, menyampaikan pada hari Sabtu (22/8/2026) bahwa upaya untuk mengetahui keberadaan tahanan Iran di Qatar dan Kuwait terus dilakukan.

Mengutip Tasnim News Agency, Baqerzadeh mengajukan permintaan kepada Komite Internasional Palang Merah (ICRC) agar segera mengirimkan ambulans udara ke Qatar untuk membawa pulang para pilot yang ditahan.

Menurutnya, para penerbang mengalami cedera berat dan sedang dalam keadaan sakit.

Ia mengapresiasi keputusan pemerintah Qatar menerima tim ahli dari Iran dan meminta agar kerja sama yang diperlukan dilakukan.

Menurut Baqerzadeh, tempat penahanan tahanan di atas laut tidak memenuhi standar dan mendesak pemerintah Qatar agar segera mengalihkan mereka ke daratan serta membawa mereka ke rumah sakit yang memiliki fasilitas yang memadai untuk menjaga kesehatan mereka.

Mengenai tahanan Iran lainnya di Kuwait, Baqerzadeh menyebutkan kesepakatan awal pemerintah Kuwait yang memperbolehkan duta besar Iran berjumpa dengan para tahanan yang ditahan di negara tersebut.

“Perbuatan ini telah membawa sedikit harapan bagi pembebasan segera warga negara yang dicintai ini,” katanya.

Ia mengajak Kuwait untuk menghormati hak-hak empat tahanan Iran tersebut sesuai dengan Empat Konvensi Jenewa dan memudahkan komunikasi awal antara mereka dan keluarga.

Kepala militer Iran juga meminta ICRC untuk mengatur panggilan video antara tahanan Iran dengan anggota keluarga mereka.

Sebelumnya, Iran menyatakan bahwa tiga pilot yang hilang setelah operasi 2 Maret terhadap Pangkalan Udara Al Udeid yang dikelola AS di Qatar telah ditangkap hidup-hidup oleh pasukan Qatar.

Baqerzadeh menyampaikan isu tersebut dalam surat yang ditujukan kepada Presiden ICRC Mirjana Spoljaric Egger pada 15 Agustus.

Di dalam surat tersebut, ia menyampaikan kekhawatiran yang mendalam mengenai nasib para pilot dan meminta organisasi tersebut untuk menyelidiki kondisi mereka serta membantu mempercepat pembebasan mereka.

Berdasarkan informasi Baqerzadeh, dua pesawat tempur Su-24 TNI Angkatan Udara Iran melakukan tugas tersebut, namun terkena pertahanan udara lawan saat kembali, sehingga memaksa kru pesawat untuk melompat.

Salah satu dari empat pilot, Letnan Jenderal Majid Kazemi, meninggal dunia.

Uji DNA kemudian memastikan kematinya dan jenazahnya dikembalikan ke Iran.

Baqerzadeh mengenali tiga pilot lainnya yaitu Javad Salehi, Abdolmajid Dashtian, dan Omran Behraveshian.

Ia menyampaikan bahwa ketiganya ditangkap hidup-hidup oleh pasukan Qatar.

Pejabat militer Iran menyatakan bahwa mereka belum berhasil bertemu atau mewawancarai ketiga pilot tersebut, serta tidak bisa menghubungkan mereka dengan keluarga.

Pihak Iran telah beberapa kali meminta Qatar untuk menjelaskan status mereka dan bertindak sesuai dengan hukum kemanusiaan global.

Qatar Menyangkal Menangkap Pilot Iran

Di sisi lain, otoritas Qatar menyatakan bahwa mereka tidak memiliki data terkait para pilot yang hilang tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Mohammed Al-Ansari, menyangkal dengan tegas laporan bahwa ketiga pilot Iran tersebut ditahan.

Berdasarkan keterangan dari Qatar, pasukan mereka berusaha berkomunikasi dengan para pilot setelah memasuki ruang udara negara tersebut, namun tidak mendapatkan tanggapan.

Ansari menyatakan, pasukannya selanjutnya bertindak sesuai dengan aturan partisipasi yang telah ditetapkan guna menjaga wilayah Qatar.

Qatar juga menyangkal pernyataan Iran tentang apa yang terjadi setelah pesawat-pesawat itu jatuh.

Qatar menyatakan, tim pencari dan penyelamatnya sedang mencari para pilot, kemudian bekerja sama dengan Iran dalam proses pemulihan dan pengangkutan jenazah salah satu pilot.

Doha menyatakan, pihaknya telah mengundang tim Iran pada bulan April untuk meninjau detail operasi pencarian tersebut, namun mengklaim bahwa Iran tidak merespons undangan tersebut.

Operasi 2 Maret berlangsung di tengah respons militer Iran yang lebih menyeluruh terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada 28 Februari.

Kata Pakar

Menurut Efatha Filomeno, seorang dosen Ilmu Politik dari Universitas Udayana, tuduhan penangkapan pilot Iran terhadap Qatar merupakan bagian dari strategi yang dilakukan Iran untuk memperkuat posisi tawar dalam negosiasi dengan Amerika Serikat.

Iran juga dianggap tidak sepenuhnya netral dalam menjalankan perannya sebagai penengah oleh Qatar.

Dalam wawancara KompasTV, Minggu (16/8/2026), Efatha menganggap Iran justru memilih jalur diplomasi dibandingkan mengambil tindakan militer guna menemukan pilot-pilotnya yang hilang.

Iran menginginkan Komite Internasional Palang Merah atau ICRC untuk melakukan pencarian.

Tindakan tersebut dianggap mampu memberikan manfaat diplomatik bagi Iran jika pada akhirnya terbukti bahwa Qatar benar-benar mengetahui keberadaan para pilot tersebut.

“Mereka justru mengirimkan bendera merah mereka yang meminta kepada Palang Merah Internasional untuk melakukan pencarian,” kata Efatha.

Menurutnya, strategi tersebut memungkinkan Iran menciptakan kesan bahwa mereka mengikuti jalur kemanusiaan dan hukum internasional.

“Jika nanti di masa depan ditemukan bahwa Qatar menyembunyikan, maka akan ada sanksi internasional,” katanya.

Efatha menganggap pendekatan tersebut juga mampu mendapatkan simpati dari masyarakat internasional.

Terlebih lagi, perang yang sedang berlangsung dianggap telah menyebabkan dampak kemanusiaan yang besar.

Pada situasi itu, Iran berupaya menjadikan dirinya sebagai pihak yang mendorong berakhirnya konflik, menurut Efatha.

(, Tiara Shelavie)

Pos terkait